Diperlakukan semena-mena oleh Polisi

Standard

Nah looooh ??

Sering kali kita mendengar kasus-kasus pelanggaran yang dilakukan oleh polisi. Pelanggaran tersebut bisa terjadi saat penangkapan atau penahanan atau pada tahap lainnya. Pelanggaran itu bisa berupa penangkapan tanpa surat penangkapan, pemeriksaan dengan kekerasan yang mengakibatkan pihak yang diperiksa (tersangka) terluka, atau penggeledahan secara sepihak. Jika mengalami kasus-kasus seperti itu, kita bisa melakukan beberapa upaya yuridis seperti mengajukan laporan atau pengaduan kepada lembaga pengawasan internal seperti Inspektorat Pengawasan Umum (Itwasum) dan Direktorat Profesi dan Pengamanan (DitProPam). Selain itu, kita juga dapat melaporkan hal tersebut kepada Komisi Kepolisian Nasional. Dalam hal adanya tindakan penangkapan atau penahanan yang dilakukan tanpa mematuhi prosedur yang sah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP) maka diajukan upaya pra-peradilan ke Pengadilan Negeri setempat.

Sebelum melakukan sidang pra-peradilan, kita perlu mendaftarkan permohonan pra-peradilan tersebut ke Pengadilan Negeri setempat. pra-peradilan ini akan diperiksa oleh hakim tunggal. Pemeriksaan pra-peradilan tersebut dilakukan secara cepat dan dalam waktu selambat-lambatnya tujuh hari hakim sudah dapat memberikan putusan.

-Tips Hukum Praktis-
Semoga bermanfaat 🙂

 

 

Premanisme dalam Masyarakat

Standard

    Premanisme dalam masyarakat

Kejahatan yang disertai dengan kekerasan dapat menyebabkan akibat psikososial dalam masyarakat dan membentuk sikap-sikap masyarakat atas kejahatan karena dapat menimbulkan rasa tidak aman, khawatir atau menakutkan.

Pada umumnya jenis-jenis kejahatan dengan identik dengan masalah premanisme. Perilaku premanisme pada umumnya mengandung unsure pemaksaan kehendak dan kekerasan sebagai suatu cara untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Perilaku preman tidak pernah mengenal etika, nilai dan norma, dan bahkan tidak pernah mengakui eksistensi penegak hukum. Perilaku premanisme semula dipandang sebagai stigma masyarakat bawah atau yang lebih dikenal dengan masyarakat marginal yang ditandai dengan kurangnya lapangan kerja, minimnya fasilitas perumahan dan ketidakmampuan pendidikan dan kesehatan.

Banyak yang menilai penaggulangan preman tidak berhasil karena:

  1. Pemerintah tidak serius mengatasi kekerasan dan kejahatan
  2. Oknum aparat pemerintah sering terlibat dalam kekerasan dan kejahatan
  3. Pemerintah sudah tidak berdaya untuk mengatasi persoalan preman
  4. Tidak ada strategi pembinaan dari pemerintah terhadap pelaku kejahatan.

Dalam penelitian Walter B. Miller membuktikan ada beberapa karakteristik yang erat kaitannya dengan budaya masyarakat kelas bawah:

– Masalah ( trouble)

Kebiasaan membuat masalah pada masyarakat kelas bawah ditandai dengan seringnya melakukan perkelahian, petualangan seksual dan minuman keras pada laki-laki. Sedangkan wanita terlibat dalam kebiasaan seks bebas.

– Keberanian dan kekerasan (toughness)

Keberanian dan kekerasan dalam budaya kelas bawah ditandai dengan keberanian secara fisik yang dibuktikan dengan kekuatan dan daya rahan fisik.

– Kecerdikan (smartness)

Maksudnya yaitu lihai dan licik dibuktikan dengan kemampuan untuk menipu, keahlian untuk memperdaya orang lain serta ahli menghindar dari tipuan.

– Kepuasan (excitement)

Dilakukan dengan kebiasaan mengkonsumsi minuman keras dan perjudian baik oleh laki-laki maupun wanita. Kebiasaan mencari kepuasan di ekspresikan dalam pola kehidupan malam dengan aktifitas seks, dengan alcohol sarana utamanya.

– Nasib atau takdir (fate)

Dalam lower class culture sangat percaya bahwa hidup dipandang sebagai persoalan nasib atau takdir. Mereka percaya kepada nasib menjadi penjahat konsep hidup adalah masalah keberuntungan.

– Kemandirian (autonomy)

Diartikan sebagai bebas dari paksaan kebebasan diwujudkan dengan tindakan memaksa orang lainmenggunakan kekerasan dalam mencapai tujuannya dan tidak ada rasa penyesalannya meskipun harus menerima konsekuensi hukum.

Orang yang mementingkan tujuan cenderung akan menghalalkan segala cara dan kejahatan atau kekerasan dipandang sebagai pilihan yang rasional untuk mencapai tujuannnya.

Identifikasi premanisme yang selama ini menjadi stigma masyarakat bawah dalam kenyataannya juga dilakukan oleh golongan masyarakat menengah dan atas meskipun dengan cara yang agak berbeda yaitu dengan kekerasan sebagai cara untuk mencapai tujuan.

(pengantar Kriminologi)
Semoga bermanfaat 🙂

About Me…

Standard
About Me,...
I am Devi Favouria Jayanti, just called me Devi. 
I was born in Jakarta, 19 July 1990. 
And I lived in Jakarta since I was born until now.
Ideals I want to be a secretary but I choose a school official duty at the 
Academy of Correction ; not occurred to me to choose this job. 
Because I was feminine and fashion including women's number one in my life. 
I've never regretted the path of my life because my current job is a noble profession. 
is to change one's life and fostering of law-breakers be law-abiding. 
Only in prison ... :)

BALAI PEMASYARAKATAN

Standard

Apa itu BALAI PEMASYARAKATAN ?

BALAI PEMASYARAKATAN yang disingkat BAPAS merupakan Unit Pelaksana Teknis dibawah Direktorat jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. BAPAS adalah salah satu pranata pemasyarakatan yang menjalankan fungsi pembimbingan, pendampingan dan pengawasan untuk Klien Pemasyarakatan pada tahap pra adjudikasi, adjudikasi, post adjudikasi dan after care.

Fungsi BAPAS menjalankan Pembimbingan, pendampingan dan Pengawasan ?

Pendampingan merupakan salah satu fungsi dari BAPAS yang berbentuk penguatan psikologis, keagamaan, pendidikan, sosial dan budaya yang ditunjuk untuk pemenuhan kebutuhan Klien Pemasyarakatan pada tahap Pra adjudikasi, Adjudikasi, Post adjudikasi dan After Care. Tidak ada penjelasan secara detail yang diuraikan dalam ketentuan perundang-undangan, selama ini proses pendampingan hanya berlaku pada perkara anak yang bermasalah dengan hukum. Padahal jika melihat perkembangan hukum, peran BAPAS sangat besar dan berdampak pada pengulangan tindak kejahatan.

Pembimbingan merupakan fungsi BAPAS yang terwujud dalam proses Diversi, Mediasi, Rekomendasi Perawatan dan Pembinaan, yang didasarkan pada hasil penelitian kemasyarakatan dalam rangka membantu memulihkan hubungan hidup, kehidupan dan penghidupan Klien pemasyarakatan pada tahap Pra adjudikasi, Adjudikasi, Post adjudikasi dan After Care. Selama ini fungsi BAPAS dimaknai hanya pada saat Warga Binaan Pemasyarakatan (narapidana) yang telah menjalani pidana 2/3 masa pidananya.

Pengawasan merupakan fungsi BAPAS yang mencakup kegiatan pemantauan, evaluasi, dan di  tahap Pra adjudikasi, Adjudikasi, Post adjudikasi dan After Care. Fungsi pengawasan ini juga berperan pada saat fungsi pembimbingan dilakukan yang didasarkan pada Penelitian Kemasyarakatan berupa mediasi, diversi, rekomendasi terhadap bentuk perawatan dan pembinaan, dan intervensi untuk pemenuhan kebutuhan Klien Pemasyarakatan pada tahap Pra adjudikasi, Adjudikasi, Post adjudikasi dan After Care.

Apa itu Klien Pemasyarakatan ?

Klien Pemasyarakatan adalah tahanan, narapidana dan anak yang berhadapan dengan hukum.

Apa itu tahap pra adjudikasi, adjudikasi, dan post adjudikasi ?

Pra adjudikasi : proses dan tahap dalam peradilan pidana yang meliputi penyelesaian perkara di lingkup penyelidikan, penyidikan dan pra penuntutan. (instansi : Kepolisian dan Kejaksaan)

Adjudikasi : proses dan tahap dalam peradilan pidana yang meliputi penyelesaian perkara di pengadilan hingga tahap pembacaan putusan pengadilan. (instansi : Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi)

Post adjudikasi : proses dan tahap pelaksanaan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap di Lembaga Pemasyarakatan dan Balai Pemasyarakatan hingga masa hukuman tersebut selesai dilaksanakan.

After Care : proses integrasi yang dimulai ketika Klien Pemasyarakatan telah selesai menjalani seluruh masa hukuman berdasarkan kebutuhan Klien Pemasyarakatan.

Dalam sistem peradilan pidana BAPAS memiliki peranan dalam tahap Pra adjudikasi, Adjudikasi, Post adjudikasi dan After Care. Produk yang dihasilkan oleh BAPAS ialah Penelitian Kemasyarakatan atau yang disebut dengan LITMAS adalah rangkaian kegiatan di tahap Pra adjudikasi, Adjudikasi, Post adjudikasi dan After Care berupa pengumpulan data, analisa dan penilaian kebutuhan serta penilaian resiko yang hasilnya berupa dokumen penelitian yang memuat solusi dan saran untuk kepentingan Klien Pemasyarakatan. 

(Center for Detention Studies – Naskah Akademik RUU PAS)
Semoga bermanfaat 🙂

Long Journey Enjoying the last days in the Dorm

Standard

So heavy when the reality show two more months of time in this box. Weight seemed to live a long time out of the box. See ambient conditions do not support the development of thinking became even negative personal. memperhatinkan really see the development of their peers who have a better person and it turns out I can not develop it. Establishment where I been?
Affected by the circumstances surrounding the making me worse.
LImageooking forward to the challenge of my life, really made me kneel and only God could lift me back.

Over Capacity

Standard

Prison conditions Jakarta area is over capacity condition. By the Directorate General of Corrections official data recorded in smslap.ditjenpas.go.id, as of June 13, 2012 that the number of inhabitants of prisons and detention center in Jakarta area has reached 13 780, while the capacity to accommodate 5891 residential only, so the numbers have reached over-capacity 234 percent. (http://ditjenpas.go.id/pas2/article/article.php?id=119)
Residential density may inhibit the function of prisons in performing services or construction. High mortality, the vulnerability of contracting infectious diseases, the environment with a decreased quality of life and can affect the psychology of the people assisted.

Theory in the Positivist Paradigm

Standard
  1. Human behavior is the result of the law as a causal
  2. Causal relationships that govern human behavior can be determined through scientific methods used to understand the physical natural environment
  3. Criminals represents a device unique causal

Differential Association (Edwin H. Sutherland)

  • That bad behavior is learned
  • Bad behavior on learning in an interaction with the communication process
  • Interaction for learning that occurs within an intimate group
  • Are studied including techniques / ways of doing evil, instructions / directions of the specific motives, drives, rationalizations and attitudes
  • Instructions / directions of the specific motive and encouragement to learn of the legal definitions that support and which do not support bad behavior
  • One becomes a criminal because the definitions that support the law so much that it exceeds the definitions that do not support the violation of law
  • Different associations that vary in frequency, duration, priority and intensity

Social Structure and Anomie (Robert K. Merton)

Merton’s view, there are three aspects of American society:

  • a cultural destination
  • there are norms that regulate the means that can be taken as legitimate by members of the community to achieve their aspirations
  • the fact that there are different opportunities in the use of legitimate means of it.